I
have to thank God for every breath I take. There’s so much gifts from Him that
I couldn’t suspect.
Rencana
Tuhan lebih indah daripada rencana kita. Begitu kata teman saya dalam sebaris
bio di akun twitternya. Waktu itu, saya hanya mengiyakan dalam sepintas, dan
bahkan terbersit dalam benak saya “emang iya?”. Waktu itu, saya pikir kata-kata
itu hanya untuk orang yang sudah
menyerah pada keadaan. Orang-orang yang hanya ingin menghibur dirinya sendiri
dan berharap kenyataan yang diterima adalah hadiah untuk mereka. Sampai suatu
saat, perlahan saya menemukan makna dibalik kata-kata itu.
Saat
di bangku kelas XII SMA, cita-cita saya saat itu adalah bekerja pada sebuah
media komunikasi yang memang sudah menjadi minat saya sejak SMP. Saya akan rela
lembur seharian di kantor redaksi sekolah meski waktu sudah larut. Entah
kenapa, dunia jurnalis dan kawan-kawannya seperti sudah menjadi bagian dari
diri saya. Karena itulah, saya memutuskan untuk mengambil kuliah di jurusan
yang (menurut saya) tidak jauh dengan kegiatan pengembangan diri yang saya
ikuti di SMA. Saya memilih broadcasting di salah satu institut seni sebagai
tujuan saya selanjutnya dalam menuntut ilmu.
Orang
tua saya saat itu setuju saja dengan apa yang menjadi pilihan saya, mereka
bilang apapun yang menjadi impian saya akan mereka dukung. Orang tua saya bukan
tipe orang tua otoriter yang mengharuskan anak-anaknya melakukan apa yang
mereka inginkan. Dan saya SANGAT BERSYUKUR atas semua itu. Mereka membebaskan
kami untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk saya dan adik-adik saya
dalam semua kegiatan. Salah satunya adalah ketika saya harus memilih jurusan
untuk kuliah nanti. Bahkan ibu lebih rajin mencari informasi tentang
broadcasting daripada saya. Sayapun sedikit lega karena sebagian besar teman-teman
saya memiliki kendala dengan orangtua mereka saat akan menentukan jurusan untuk
kuliah.
Saya
saat itu semakin mantap untuk mendaftar di bidang broadcast, sampai pengumuman
bagi siswa yang boleh mendaftar SNMPTN Undangan diumumkan. Dan Alhamdulillah,
saya salah satu orang yang berhak mendaftar pada seleksi itu. Sayangnya,
institut seni yang menjadi tujuan saya selanjutnya tidak masuk dalam daftar
PTN. Dilemapun melanda. Di satu sisi, saya benar benar muak jika harus bertemu
dengan pelajaran pelajaran IPA yang sebenarnya tidak begitu saya sukai. Sebagai
informasi saja, untuk SNMPTN Undangan saat itu, siswa jurusan IPA hanya boleh
mendaftar pada jurusan IPA, begitu juga siswa IPS tidak boleh mengambil jurusan
IPA. Di sisi yang lain, akan sangat bodoh dan naif rasanya kalau saya
melewatkan kesempatan itu padahal ada ratusan murid lain yang berharap
mendapatkannya.
Akhirnya,
dengan diskusi dari orang tua dan saran dari para teman serta dari bapak ibu guru,
saya memutuskan mengambil SNMPTN Undangan. Kala itu, saya juga bingung harus
mengambil jurusan apa di PTN karena memang saya tidak benar benar berminat.
Entah berapa kali dalam seminggu saya mengunjungi ruang konselling. Hanya untuk
melihat deretan daftar universitas dan prodi yang ada, memilih dan mengonsultasikannya
pada guru BK. Yang jawabannya sama sekali tidak bisa memuaskan saya. Dan endingnya saya hanya akan keluar ruangan
BK dengan muka yang mirip dengan orang yang tidak tidur 8 hari. Stres! Ya
begitulah. Dan itu berlangsung sampai hari terakhir dikumpulkannya berkas untuk
pendaftaran SNMPTN Undangan. Dan prodi apa yang akhirnya saya pilih? Saya
memilih untuk mendaftar di dua universitas yang berbeda tetapi dengan prodi
yang sama yaitu Ilmu Kelautan. Sebenarnya, saya memiliki kesempatan untuk memilih
tiga prodi pada tiap universitas, tapi saya tidak ingin menyiksa diri saya
nantinya jika harus berkutat pada hal-hal yang sama sekali tidak punya daya
tarik bagi saya.
Saya memilih Ilmu Kelautan bukan tanpa alasan.
Kebetulan, saya tinggal tidak jauh (dan juga tidak dekat) dari pantai. Dan
sudah sejak lama saya perhatikan, potensi di sekitar pantai dan laut sangat
besar, mengingat negara kita adalah negara maritim. Disamping itu, ada bisikan
kecil dari jiwa iseng dan pemberontak saya. Ada apa saja sih di dalam laut
sana? Sedalam apa sebenarnya laut itu? Dari situlah akhirnya saya memutuskan
mengambil prodi Ilmu Kelautan pada SNMPTN Undangan.
Lalu,
bagaimana dengan broadcasting yang menjadi tujuan awal saya? Tentu saja saya
masih menggebu-gebu ikut tes di institut seni agar bisa menjadi seorang
broadcaster. Karena itulah obsesi saya yang sebenarnya. Disitulah saya akan
hidup. Membayangkan saya akan bertemu dan bergaul dengan bermacam-macam orang,
mencari dan merekam segala informasi dan peristiwa. Bergelut dengan waktu.
Tidak ada seragam dan setumpuk laporan kerja. Saya hanya akan berkutat dengan
media rekam dan berada di tempat yang berbeda-beda. Begitu saya membayangkan
diri saya saat sedang bekerja. Tidak mandi berhari-hari, makan seadanya, tidur
sewaktu waktu. Uncommonly life.
Persiapan
untuk tes di institut senipun saya persiapkan dengan matang. Saya yakin sekali
di dunia inilah saya akan sepenuhnya menjadi diri saya sendiri. Bukan lagi saya
yang akan berpura pura doyan mengaplikasikan rumus rumus fisika dan kimia. Saya
menaruh harapan besar saya disini. Seorang broadcaster. Tapi, dukungan yang
diberikan orangtua saya mulai berkurang.
Sejak
orangtua saya tau saya juga mendaftar SNMPTN Undangan, dukungan di dunia
broadcasting yang semula 100% itu perlahan turun. Mereka mulai condong pada
pilihan yang saya ambil di SNMPTN Undangan. Alasannya, pola kerja. Ya, saya
sadar. Sebagai seorang perempuan, saya punya limitasi dalam bekerja. Itu sebuah
kodrat. Dan, seorang broadcaster tidak punya batasan jam kerja. Yang artinya,
perempuan tidak mudah menjadi seorang broadcaster. Tapi, saya sudah terbiasa
dengan ketidakberaturan jam kerja. Saya sudah jatuh cinta pada adrenalin saat
mendekati dateline. Namun, tidak begitu dengan orangtua saya. Bagaimanapun,
kata mereka, prospek dan waktu kerja haruslah tetap diperhitungkan.
Sayapun
kembali dalam kebingungan untuk yang kedua kalinya. Kebingungan karena support
dari orang tua (diam diam) menurun. Dalam hati, saya tidak mau melangkah tanpa
ada restu orang tua. Tapi, bagaimanapun ini adalah impian saya. Dan sekeras
apapun, saya akan tetap berjuang mendapatkannya. Orangtua saya tidak terang
terangan menyatakan ketidaksetujuan mereka. Saya rasa, itu karena mereka tidak
ingin mematahkan semangat saya. Dan tidak ingin saya merasakan rasa kalut yang
dirasakan teman teman saya yang juga sudah saya ceritakan pada orangtua saya
saat tujuan mereka tidak disetujui orangtuanya. Walaupun, belakangan saya tahu,
bahwa diam diam ayah tidak mendoakan saya saat saya mengikuti tes di institut
seni itu.
Sampai
pada suatu hari, entah karena orangtua saya sudah berada pada kekhawatiran yang
‘mengkhawatirkan’ atau ada hal lain. Sayapun diminta kakek untuk berkunjung
kerumahnya. Kakek adalah orang yang paling saya hormati di keluarga. Sulit
sekali mengatakan “tidak” saat kakek mengutarakan opininya. Beliau menanyai
saya bagaimana jika saya diterima SNMPTN Undangan, apakah akan tetap mengambil
tes masuk sebagai broadcaster. Tentu saja tanpa ragu saya menjawab iya.
Meskipun saya menjawabnya dengan mata tertunduk. Dalam nasehatnya, ada makna
yang saya tangkap bahwa keluarga ingin saya melanjutkan ke PTN saja, dan
menunda dulu keinginan saya sebagai seorang broadcaster. Detik detik itulah
saya merasa pada persimpangan antara meraih impian atau menyenangkan hati
orangtua. Dan dua duanya adalah hal yang sama sama saya inginkan. Mencoba berdiplomasi,
saya mengutarakan keinginan saya. Kalaupun saya diterima pada SNMPTN Undangan,
saya akan tetap mencoba tes di institut seni yang saya inginkan. Tapi tidak
menutup kemungkinan saya masuk pada PTN dimana saya mendaftar.
Kebetulan,
pengumuman SNMPTN Undangan hampir bersamaan dengan jadwal tes di institut seni.
Kala itu Sabtu sore, sehari sebelum pengumuman SNMPTN Undangan dijadwalkan,
saya mendapat info bahwa pengumuman SNMPTN Undangan sudah bisa dilihat. Dengan
hati yang entah bagaimana rasanya saat itu, yang jelas ada rasa takut terselip
saat saya melihat pengumuman SNMPTN Undangan. Ketakutan bahwa saya akan
‘sedikit dipaksa’ untuk menerima pilihan di universitas dan mengubur impian
saya menjadi seorang broadcaster. Tangan saya gemetar melihat tulisan di ponsel
yang berisi “SELAMAT, YUNIDHA DAMAS ASTRINI ANDA LOLOS PADA PILIHAN
PERTAMA SNMPTN UNDANGAN. .dst” ada luapan rasa bahagia yang ingin segera saya
bagikan kepada kedua orangtua saya, tapi juga ketakutan yang lebih besar dari
sebelumnya karena alasan untuk tidak mengikuti tes di institut seni semakin
kuat. Bagaimanapun, ternyata keinginan untuk membahagiakan orangtua lebih besar
dari ‘sekedar’ mengejar impian. Sayapun, dengan menahan tangis yang tercekat di
tenggorokan dan dengan tangan gemetar memberikan ponsel saya pada ibu. Dan
betapa bahagia sekaligus hancur hati saya melihat linangan air mata ibu saat
tahu saya lolos SNMPTN Undangan. Bagaimana mungkin, saya akan tetap bersikukuh
dengan impian saya kalau mereka sangat bangga saya bisa menembus PTN dengan
jalur prestasi akademis. Yang juga artinya akan mengeluarkan biaya lebih ‘hanya
untuk sekedar’ menuruti keinginan saya mengadu kemampuan di bidang
broadcasting. Ya, beginilah ternyata cara lain Tuhan memberikan nikmatnya pada
kita.
Singkat
cerita, saya akhirnya berangkat juga menuju tempat dimana saya mengikuti tes
broadcast itu. Namun, doa saya lain saat saya akan mengikuti tiap tes yang
diberikan. Doa saya yang semula ‘Ya Allah, biarkan hamba menunjukkan pada
orangtua hamba bahwa hamba mampu di bidang ini’ menjadi ‘Ya Allah, ridhoi tiap
hal yang hamba lakukan’ dan saya mengerjakan tes dengan niat 80%. Tidak tau,
lagi-lagi keinginan melihat orangtua bahagia dan lega menutupi keuletan saya
menuju impian saya sendiri. Dan begitulah saya mengikuti tiap tahap tes dengan
niat yang berbeda. Dengan cara gagal secara terhormat. Sampai sekarang,
orangtua saya mungkin tidak tahu, bahwa niat saya telah berubah semenjak
melihat tangis haru ibu saya. Dan, yah. Sayapun gagal. Seperti yang sudah saya
perkirakan sebelumnya. J
Lalu,
apa hubungannya dengan kalimat di paragraf pertama di tulisan ini? Ya, karena
kegagalan itulah saya mengerti makna dari kalimat itu secara perlahan lahan.
Beberapa hari setelah pengumuman kegagalan saya, saya berangkat lagi untuk
melakukan heregistrasi sebagai mahasiswi Ilmu kelautan. Dengan membesarkan hati
dan menghibur diri sendiri bahwa ini yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk
saya, sayapun mencoba ikhlas. Sampai saat mendapatkan jas almamater dari PTN
pun, saya masih berharap mengenakan kaos oblong dan menenteng kamera di suatu
tempat. Tapi, ya inilah akhirnya. Disinilah semuanya akan berlanjut. Di PTN
dengan titel mahasiswi Ilmu Kelautan.
Layaknya
orang yang gagal dalam cinta, begitu juga saya. Perlahan saya mengobati
kekecewaan yang sebenarnya saya buat sendiri. Perlahan saya mencari keasyikan
dalam dunia baru saya. Dunia yang sudah saya pilih bersama orangtua dan
konsultan hidup saya lainnya. Yang sudah secara matang memperhitungkan cara dan
prospek kerjanya. Meskipun begitu, saya tidak pernah berhenti bersyukur.
Setidaknya saya akan bisa melihat senyuman dan kelegaan hati orangtua saya.
Tidak ada yang saya inginkan kecuali membuat mereka bangga. Dan Tuhan menjawab
semuanya.
Sekarang,
saya akan dengan sangat bangga menyatakan sebagai mahasiswi Ilmu Kelautan.
Disinilah ternyata Tuhan menempatkan saya. Dimana saya tidak akan lupa dengan
kuasa-Nya. Tempat dimana saya akan belajar tentang segala apa yang Dia miliki
di dalam laut sana. Beginilah ternyata Dia memperlihatkan pada saya, betapa
berharganya tiap hembusan nafas yang saya miliki. Hal-hal yang pelajari disini,
membuat saya sadar betapa banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk sekali nikmat yang
Dia berikan pada manusia. Subhanallah!
Dan
ternyata setelah saya flashback memori saya, ada bebrapa contekan yang
diberikan Tuhan pada saya sebelum akhirnya saya berada pada keadaan ini. Kode-kode yang secara tidak langsung
memberitahukan saya. Yang ternyata merupakan
pesan tersirat. Jauh sebelum saya memilih prodi Ilmu Kelautan, saya memiliki
kenalan seorang pecinta laut, yang akan dengan senang hati bercerita pada saya
tentang bagaimana petualangannya mengarungi lautan, juga, karena dia, saat saya
mengikuti lomba wall magazine ide yang tercetus di pikiran saya adalah
pencemaran laut. Yang belum banyak disadari oleh masyarakat. Dan akhirnya
mendapat predikat sebagai runner-up pada waktu itu.
Ya.
Begitulah cerita saya. Bagaimana saya sampai di tempat dimana saya seharusnya
berada. Pembuktian dari sebuah kalimat yang saya ragukan sebelumnya. Jika
kalian tanya, apakah saya masih kecewa karena telah mengubur impian saya? Iya.
Tentu. Namun, saya akan lebih kecewa saat saya berada di tempat yang salah
karena keangkuhan diri saya.
Pesan
saya, teruslah berusaha mengejar impianmu. Tetapi ketika impianmu belum
berhasil, yakinlah bahwa disitulah Tuhan menginginkan kamu berada. semoga, apa
yang kita kerjakan sekarang selalu mendapat barokah dari-Nya. Amin.. amin ya
rabbal alamin.

