Senin, 08 Oktober 2012

God knows us more than we know ourselves

I have to thank God for every breath I take. There’s so much gifts from Him that I couldn’t suspect.

Rencana Tuhan lebih indah daripada rencana kita. Begitu kata teman saya dalam sebaris bio di akun twitternya. Waktu itu, saya hanya mengiyakan dalam sepintas, dan bahkan terbersit dalam benak saya “emang iya?”. Waktu itu, saya pikir kata-kata itu hanya untuk  orang yang sudah menyerah pada keadaan. Orang-orang yang hanya ingin menghibur dirinya sendiri dan berharap kenyataan yang diterima adalah hadiah untuk mereka. Sampai suatu saat, perlahan saya menemukan makna dibalik kata-kata itu.
Saat di bangku kelas XII SMA, cita-cita saya saat itu adalah bekerja pada sebuah media komunikasi yang memang sudah menjadi minat saya sejak SMP. Saya akan rela lembur seharian di kantor redaksi sekolah meski waktu sudah larut. Entah kenapa, dunia jurnalis dan kawan-kawannya seperti sudah menjadi bagian dari diri saya. Karena itulah, saya memutuskan untuk mengambil kuliah di jurusan yang (menurut saya) tidak jauh dengan kegiatan pengembangan diri yang saya ikuti di SMA. Saya memilih broadcasting di salah satu institut seni sebagai tujuan saya selanjutnya dalam menuntut ilmu.
Orang tua saya saat itu setuju saja dengan apa yang menjadi pilihan saya, mereka bilang apapun yang menjadi impian saya akan mereka dukung. Orang tua saya bukan tipe orang tua otoriter yang mengharuskan anak-anaknya melakukan apa yang mereka inginkan. Dan saya SANGAT BERSYUKUR atas semua itu. Mereka membebaskan kami untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk saya dan adik-adik saya dalam semua kegiatan. Salah satunya adalah ketika saya harus memilih jurusan untuk kuliah nanti. Bahkan ibu lebih rajin mencari informasi tentang broadcasting daripada saya. Sayapun sedikit lega karena sebagian besar teman-teman saya memiliki kendala dengan orangtua mereka saat akan menentukan jurusan untuk kuliah.
Saya saat itu semakin mantap untuk mendaftar di bidang broadcast, sampai pengumuman bagi siswa yang boleh mendaftar SNMPTN Undangan diumumkan. Dan Alhamdulillah, saya salah satu orang yang berhak mendaftar pada seleksi itu. Sayangnya, institut seni yang menjadi tujuan saya selanjutnya tidak masuk dalam daftar PTN. Dilemapun melanda. Di satu sisi, saya benar benar muak jika harus bertemu dengan pelajaran pelajaran IPA yang sebenarnya tidak begitu saya sukai. Sebagai informasi saja, untuk SNMPTN Undangan saat itu, siswa jurusan IPA hanya boleh mendaftar pada jurusan IPA, begitu juga siswa IPS tidak boleh mengambil jurusan IPA. Di sisi yang lain, akan sangat bodoh dan naif rasanya kalau saya melewatkan kesempatan itu padahal ada ratusan murid lain yang berharap mendapatkannya.
Akhirnya, dengan diskusi dari orang tua dan saran dari para teman serta dari bapak ibu guru, saya memutuskan mengambil SNMPTN Undangan. Kala itu, saya juga bingung harus mengambil jurusan apa di PTN karena memang saya tidak benar benar berminat. Entah berapa kali dalam seminggu saya mengunjungi ruang konselling. Hanya untuk melihat deretan daftar universitas dan prodi yang ada, memilih dan mengonsultasikannya pada guru BK. Yang jawabannya sama sekali tidak bisa memuaskan saya. Dan endingnya saya hanya akan keluar ruangan BK dengan muka yang mirip dengan orang yang tidak tidur 8 hari. Stres! Ya begitulah. Dan itu berlangsung sampai hari terakhir dikumpulkannya berkas untuk pendaftaran SNMPTN Undangan. Dan prodi apa yang akhirnya saya pilih? Saya memilih untuk mendaftar di dua universitas yang berbeda tetapi dengan prodi yang sama yaitu Ilmu Kelautan. Sebenarnya, saya memiliki kesempatan untuk memilih tiga prodi pada tiap universitas, tapi saya tidak ingin menyiksa diri saya nantinya jika harus berkutat pada hal-hal yang sama sekali tidak punya daya tarik bagi saya.
 Saya memilih Ilmu Kelautan bukan tanpa alasan. Kebetulan, saya tinggal tidak jauh (dan juga tidak dekat) dari pantai. Dan sudah sejak lama saya perhatikan, potensi di sekitar pantai dan laut sangat besar, mengingat negara kita adalah negara maritim. Disamping itu, ada bisikan kecil dari jiwa iseng dan pemberontak saya. Ada apa saja sih di dalam laut sana? Sedalam apa sebenarnya laut itu? Dari situlah akhirnya saya memutuskan mengambil prodi Ilmu Kelautan pada SNMPTN Undangan.
Lalu, bagaimana dengan broadcasting yang menjadi tujuan awal saya? Tentu saja saya masih menggebu-gebu ikut tes di institut seni agar bisa menjadi seorang broadcaster. Karena itulah obsesi saya yang sebenarnya. Disitulah saya akan hidup. Membayangkan saya akan bertemu dan bergaul dengan bermacam-macam orang, mencari dan merekam segala informasi dan peristiwa. Bergelut dengan waktu. Tidak ada seragam dan setumpuk laporan kerja. Saya hanya akan berkutat dengan media rekam dan berada di tempat yang berbeda-beda. Begitu saya membayangkan diri saya saat sedang bekerja. Tidak mandi berhari-hari, makan seadanya, tidur sewaktu waktu. Uncommonly life.
Persiapan untuk tes di institut senipun saya persiapkan dengan matang. Saya yakin sekali di dunia inilah saya akan sepenuhnya menjadi diri saya sendiri. Bukan lagi saya yang akan berpura pura doyan mengaplikasikan rumus rumus fisika dan kimia. Saya menaruh harapan besar saya disini. Seorang broadcaster. Tapi, dukungan yang diberikan orangtua saya mulai berkurang.
Sejak orangtua saya tau saya juga mendaftar SNMPTN Undangan, dukungan di dunia broadcasting yang semula 100% itu perlahan turun. Mereka mulai condong pada pilihan yang saya ambil di SNMPTN Undangan. Alasannya, pola kerja. Ya, saya sadar. Sebagai seorang perempuan, saya punya limitasi dalam bekerja. Itu sebuah kodrat. Dan, seorang broadcaster tidak punya batasan jam kerja. Yang artinya, perempuan tidak mudah menjadi seorang broadcaster. Tapi, saya sudah terbiasa dengan ketidakberaturan jam kerja. Saya sudah jatuh cinta pada adrenalin saat mendekati dateline. Namun, tidak begitu dengan orangtua saya. Bagaimanapun, kata mereka, prospek dan waktu kerja haruslah tetap diperhitungkan.
Sayapun kembali dalam kebingungan untuk yang kedua kalinya. Kebingungan karena support dari orang tua (diam diam) menurun. Dalam hati, saya tidak mau melangkah tanpa ada restu orang tua. Tapi, bagaimanapun ini adalah impian saya. Dan sekeras apapun, saya akan tetap berjuang mendapatkannya. Orangtua saya tidak terang terangan menyatakan ketidaksetujuan mereka. Saya rasa, itu karena mereka tidak ingin mematahkan semangat saya. Dan tidak ingin saya merasakan rasa kalut yang dirasakan teman teman saya yang juga sudah saya ceritakan pada orangtua saya saat tujuan mereka tidak disetujui orangtuanya. Walaupun, belakangan saya tahu, bahwa diam diam ayah tidak mendoakan saya saat saya mengikuti tes di institut seni itu.
Sampai pada suatu hari, entah karena orangtua saya sudah berada pada kekhawatiran yang ‘mengkhawatirkan’ atau ada hal lain. Sayapun diminta kakek untuk berkunjung kerumahnya. Kakek adalah orang yang paling saya hormati di keluarga. Sulit sekali mengatakan “tidak” saat kakek mengutarakan opininya. Beliau menanyai saya bagaimana jika saya diterima SNMPTN Undangan, apakah akan tetap mengambil tes masuk sebagai broadcaster. Tentu saja tanpa ragu saya menjawab iya. Meskipun saya menjawabnya dengan mata tertunduk. Dalam nasehatnya, ada makna yang saya tangkap bahwa keluarga ingin saya melanjutkan ke PTN saja, dan menunda dulu keinginan saya sebagai seorang broadcaster. Detik detik itulah saya merasa pada persimpangan antara meraih impian atau menyenangkan hati orangtua. Dan dua duanya adalah hal yang sama sama saya inginkan. Mencoba berdiplomasi, saya mengutarakan keinginan saya. Kalaupun saya diterima pada SNMPTN Undangan, saya akan tetap mencoba tes di institut seni yang saya inginkan. Tapi tidak menutup kemungkinan saya masuk pada PTN dimana saya mendaftar.
Kebetulan, pengumuman SNMPTN Undangan hampir bersamaan dengan jadwal tes di institut seni. Kala itu Sabtu sore, sehari sebelum pengumuman SNMPTN Undangan dijadwalkan, saya mendapat info bahwa pengumuman SNMPTN Undangan sudah bisa dilihat. Dengan hati yang entah bagaimana rasanya saat itu, yang jelas ada rasa takut terselip saat saya melihat pengumuman SNMPTN Undangan. Ketakutan bahwa saya akan ‘sedikit dipaksa’ untuk menerima pilihan di universitas dan mengubur impian saya menjadi seorang broadcaster. Tangan saya gemetar melihat tulisan di ponsel yang berisi “SELAMAT, YUNIDHA DAMAS ASTRINI ANDA LOLOS PADA PILIHAN PERTAMA SNMPTN UNDANGAN. .dst” ada luapan rasa bahagia yang ingin segera saya bagikan kepada kedua orangtua saya, tapi juga ketakutan yang lebih besar dari sebelumnya karena alasan untuk tidak mengikuti tes di institut seni semakin kuat. Bagaimanapun, ternyata keinginan untuk membahagiakan orangtua lebih besar dari ‘sekedar’ mengejar impian. Sayapun, dengan menahan tangis yang tercekat di tenggorokan dan dengan tangan gemetar memberikan ponsel saya pada ibu. Dan betapa bahagia sekaligus hancur hati saya melihat linangan air mata ibu saat tahu saya lolos SNMPTN Undangan. Bagaimana mungkin, saya akan tetap bersikukuh dengan impian saya kalau mereka sangat bangga saya bisa menembus PTN dengan jalur prestasi akademis. Yang juga artinya akan mengeluarkan biaya lebih ‘hanya untuk sekedar’ menuruti keinginan saya mengadu kemampuan di bidang broadcasting. Ya, beginilah ternyata cara lain Tuhan memberikan nikmatnya pada kita.
Singkat cerita, saya akhirnya berangkat juga menuju tempat dimana saya mengikuti tes broadcast itu. Namun, doa saya lain saat saya akan mengikuti tiap tes yang diberikan. Doa saya yang semula ‘Ya Allah, biarkan hamba menunjukkan pada orangtua hamba bahwa hamba mampu di bidang ini’ menjadi ‘Ya Allah, ridhoi tiap hal yang hamba lakukan’ dan saya mengerjakan tes dengan niat 80%. Tidak tau, lagi-lagi keinginan melihat orangtua bahagia dan lega menutupi keuletan saya menuju impian saya sendiri. Dan begitulah saya mengikuti tiap tahap tes dengan niat yang berbeda. Dengan cara gagal secara terhormat. Sampai sekarang, orangtua saya mungkin tidak tahu, bahwa niat saya telah berubah semenjak melihat tangis haru ibu saya. Dan, yah. Sayapun gagal. Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya. J
Lalu, apa hubungannya dengan kalimat di paragraf pertama di tulisan ini? Ya, karena kegagalan itulah saya mengerti makna dari kalimat itu secara perlahan lahan. Beberapa hari setelah pengumuman kegagalan saya, saya berangkat lagi untuk melakukan heregistrasi sebagai mahasiswi Ilmu kelautan. Dengan membesarkan hati dan menghibur diri sendiri bahwa ini yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya, sayapun mencoba ikhlas. Sampai saat mendapatkan jas almamater dari PTN pun, saya masih berharap mengenakan kaos oblong dan menenteng kamera di suatu tempat. Tapi, ya inilah akhirnya. Disinilah semuanya akan berlanjut. Di PTN dengan titel mahasiswi Ilmu Kelautan.
Layaknya orang yang gagal dalam cinta, begitu juga saya. Perlahan saya mengobati kekecewaan yang sebenarnya saya buat sendiri. Perlahan saya mencari keasyikan dalam dunia baru saya. Dunia yang sudah saya pilih bersama orangtua dan konsultan hidup saya lainnya. Yang sudah secara matang memperhitungkan cara dan prospek kerjanya. Meskipun begitu, saya tidak pernah berhenti bersyukur. Setidaknya saya akan bisa melihat senyuman dan kelegaan hati orangtua saya. Tidak ada yang saya inginkan kecuali membuat mereka bangga. Dan Tuhan menjawab semuanya.
Sekarang, saya akan dengan sangat bangga menyatakan sebagai mahasiswi Ilmu Kelautan. Disinilah ternyata Tuhan menempatkan saya. Dimana saya tidak akan lupa dengan kuasa-Nya. Tempat dimana saya akan belajar tentang segala apa yang Dia miliki di dalam laut sana. Beginilah ternyata Dia memperlihatkan pada saya, betapa berharganya tiap hembusan nafas yang saya miliki. Hal-hal yang pelajari disini, membuat saya sadar betapa banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk sekali nikmat yang Dia berikan pada manusia. Subhanallah!
Dan ternyata setelah saya flashback memori saya, ada bebrapa contekan yang diberikan Tuhan pada saya sebelum akhirnya saya berada pada keadaan  ini. Kode-kode yang secara tidak langsung memberitahukan saya.  Yang ternyata merupakan pesan tersirat. Jauh sebelum saya memilih prodi Ilmu Kelautan, saya memiliki kenalan seorang pecinta laut, yang akan dengan senang hati bercerita pada saya tentang bagaimana petualangannya mengarungi lautan, juga, karena dia, saat saya mengikuti lomba wall magazine ide yang tercetus di pikiran saya adalah pencemaran laut. Yang belum banyak disadari oleh masyarakat. Dan akhirnya mendapat predikat sebagai runner-up pada waktu itu.
Ya. Begitulah cerita saya. Bagaimana saya sampai di tempat dimana saya seharusnya berada. Pembuktian dari sebuah kalimat yang saya ragukan sebelumnya. Jika kalian tanya, apakah saya masih kecewa karena telah mengubur impian saya? Iya. Tentu. Namun, saya akan lebih kecewa saat saya berada di tempat yang salah karena keangkuhan diri saya.
Pesan saya, teruslah berusaha mengejar impianmu. Tetapi ketika impianmu belum berhasil, yakinlah bahwa disitulah Tuhan menginginkan kamu berada. semoga, apa yang kita kerjakan sekarang selalu mendapat barokah dari-Nya. Amin.. amin ya rabbal alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar